Papan Ketik bagi Tunadaksa

papan ketikBisa menggunakan papan ketik dan tetikus menjadi salah satu indikator kualitas hidup penyandang disabilitas dalam aktivitas sekolah, selain bisa menggunakan pulpen dan gunting. Sayangnya, papan ketik dan tetikus yang ada sering kali kurang bisa memfasilitasi kondisi khusus yang dialami penyandang disabilitas.  
 
Akibatnya, aksesibilitas informasi yang menjadi hak penyandang disabilitas sering kali tidak terpenuhi. 
 
Melihat kondisi ini, empat mahasiswa dari Program Studi Teknik Industri, Jurusan Teknik Mesin dan Industri, Fakultas Teknik, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, menggagas papan ketik (keyboard) dan tetikus (mouse) yang nyaman dan mudah digunakan. Alat itu diharapkan bisa mengakomodasi kebutuhan penyandang disabilitas, terutama para tunadaksa yang memiliki keterbatasan pada tubuh bagian atas atau lengan. Keempat mahasiswa itu adalah Helmi Andang Kurniawan, Rheza Adipratama, V Reza BK, dan Sunu Wicaksono, didampingi dosen pembimbing Budi Hartono. 
 
Pada saat bersamaan, mereka mengikuti kompetisi Student Design Challenge at The 5th International Convention on Rehabilitation Engineering and Assistive Technology (i-create) 2011 di Bangkok, Thailand. Mereka kemudian merancang papan ketik dan tetikus khusus yang diberi nama Diamond (difable mouse and keyboard). Karya itu berhasil menjadi finalis pada kompetisi itu dan dipamerkan bersama karya para finalis dari negara lain. 
 
Papan sentuh 
 
Pada mulanya, tim membuat papan ketik dan tetikus yang terpisah. Namun, dalam perkembangan, fungsi tetikus disatukan dengan papan ketik menjadi semacam papan sentuh (touchpad). Kini, ada 18 mahasiswa yang terlibat dalam pengembangan lanjutan Diamond. 
 
Pada papan ketik standar, penyandang disabilitas kesulitan menggunakan tombol yang berukuran kecil, berjarak rapat, dan papan yang datar. Ini dialami oleh mereka yang kehilangan lengan atau harus mengetik dengan ruas pangkal lengan. 
 
Tim Diamond kemudian merancang papan ketik yang dioperasikan dengan kaki. Mereka memanfaatkan antropometri atau ilmu tentang dimensi tubuh manusia guna meningkatkan kenyamanan pemakai produk karena sulit menciptakan produk yang benar-benar sesuai untuk semua pengguna yang bervariasi kebutuhannya. 
 
Data yang digunakan sebagai referensi adalah antropometri mahasiswa Teknik Industri angkatan 2008. Hasilnya sama dengan antropometri orang Asia Tenggara dan Timur. 
 
”Untuk keyboard, kami buat dimensinya 57,6 cm x 20 cm dengan tinggi 15 cm agar mudah dijangkau pengguna ketika duduk di kursinya. Keyboard dibuat dengan kemiringan 15 derajat agar mudah dilihat dan kaki tak cepat capek. Bentuk keyboard dibuat sedikit melingkar agar bagian pinggir mudah dijangkau,” kata Helmi di sela peluncuran Diamond bersama PT Telekomunikasi Indonesia, Tbk, di Balai Besar Rehabilitasi Sosial dan Bina Daksa, Solo, Jawa Tengah, Selasa (29/1). 
 
Mudah digunakan 
 
Menurut Rheza, lebar tombol 4,6 cm dengan ujung dibuat melingkar. Jarak antartombol 4 cm agar mudah ditekan. Ada pula pijakan kaki saat papan ketik sedang tidak digunakan. 
 
Tata letak tombol dibuat sedemikian rupa sehingga jumlah tombol lebih sedikit dari papan ketik konvensional. Tombol huruf ditambahi tanda baca dengan susunan tertentu disesuaikan frekuensi penggunaan dan posisi jangkauan. 
 
Papan ketik dihubungkan dengan kabel penghubung ke laptop atau komputer yang memiliki port USB 2.0. Rangka papan ketik terbuat dari bahan kayu dilapisi kulit, tombol dari akrilik, dan papan dari printed circuit board (PCB). 
 
Penyandang tunadaksa, Eko Sugeng (26), mengaku merasa lebih nyaman menggunakan Diamond karena tidak perlu mengangkat kaki ke atas meja seperti menggunakan papan ketik konvensional ataupun laptop. Hanya saja, menurut dia, idealnya digunakan layar monitor lebih lebar karena jarak kursi dari layar cukup jauh agar lebih mudah membaca tulisan. (Kompas, 4 Februari 2013/ humasristek)