(0761) 35008 umri@umri.ac.id

MODIFIKASI CUACA: Cara Praktis, tetapi Tidak Sehat

MODIFIKASI CUACA: Cara Praktis, tetapi Tidak Sehat

hujanTeknologi modifikasi cuaca dengan memindahkan hujan di darat ke laut merupakan cara praktis untuk menghindarkan bencana banjir di Jakarta. Namun, cara praktis tersebut dinilai tidak sehat karena air hujan semestinya ditahan selama mungkin di darat untuk cadangan pada musim kemarau. 
 
Air hujan yang dituding sebagai penyebab banjir adalah air yang kita butuhkan saat kemarau,” kata pakar lingkungan Sudharto P Hadi, yang juga Rektor Universitas Diponegoro, Rabu (23/1), di Semarang, Jawa Tengah. 
 
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengalokasikan Rp 13 miliar untuk menerapkan teknologi modifikasi cuaca (TMC) yang dikenal sebagai teknologi hujan buatan. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, pelaksanaan TMC menyesuaikan kebutuhan untuk membuyarkan awan hujan yang berpotensi menimbulkan banjir di Jakarta. 
 
”BNPB menjadwalkan TMC berlangsung dua bulan, 26 Januari hingga 25 Maret 2013,” kata Sutopo. 
 
Unit Pelaksana Teknis Hujan Buatan pada Badan Pengkajian dan Penerapan teknologi (BPPT) dilibatkan untuk melaksanakan modifikasi cuaca ini. Seperti pada Minggu (27/1), modifikasi cuaca menggunakan pesawat Hercules dari Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, Jakarta, dilakukan dengan menyemai garam dapur (NaCl) di wilayah Banten sebelah barat Jakarta. 
 
Mengelola air hujan 
 
TMC yang digunakan secara insidental untuk mencegah banjir dapat dimaklumi. Sudarto mengatakan, masalah mendasar yang harus dihadapi adalah bagaimana mengelola air hujan di daratan. 
 
Banyak cara mengelola air hujan, mulai dari menambah ruang terbuka hijau untuk memanfaatkan fungsi tanaman dan tanah sebagai penyerap air, membuat embung, dan mengembalikan fungsi daerah aliran sungai sebagai penyangga air. 
 
Muhammad Azhar dari Indonesia Environment Consultant memberi solusi praktis mengurangi limpasan air hujan yang mengalir ke sungai. Caranya, gedung-gedung dan permukiman menyediakan penampungan air hujan. 
 
Selain mengurangi beban saluran air yang kondisinya sangat buruk di Jakarta, air tandon itu juga bisa dimanfaatkan untuk berbagai macam keperluan. Penggunaan langsung bisa untuk membilas toilet dan menyiram tanaman. 
 
Air hujan hasil tampungan dapat dimanfaatkan untuk mandi dan memasak, tetapi harus diolah terlebih dulu. 
 
Pemanfaatan air hujan mengurangi pemakaian air bawah tanah. Di Jakarta, penyedotan air bawah tanah menyebabkan penurunan tanah berkisar 4-20 sentimeter per tahun. Pemanfaatan air hujan juga bisa menekan pembelian air dari perusahaan air minum. 
 
Pertengahan Februari 
 
Kepala Pusat Perubahan Iklim dan Kualitas Udara pada Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Edvin Aldrian menyarankan, penerapan TMC untuk membuyarkan awan hujan penyebab banjir di Jakarta hanya dilakukan sampai pertengahan Februari 2013. 
 
”Setelah pertengahan Februari tidak lagi diperlukan modifikasi cuaca untuk menghindari banjir,” ujarnya. 
 
Kepala Unit Pelaksana Teknis Hujan Buatan pada BPPT Heru Widodo mengatakan, modifikasi cuaca merupakan intervensi terhadap proses yang terjadi di awan dan lingkungannya. 
 
”Di alam terdapat awan yang sangat cepat berproses menjadi hujan. Ada pula awan yang perlu proses lama untuk menjadi hujan, dan ada awan yang buyar tidak menjadi hujan,” katanya. 
 
Dengan mempelajari proses-proses alam itu, penerapan TMC berupaya mengondisikan awan dan lingkungannya seperti proses alami. TMC bisa digunakan untuk mengurangi curah hujan yang berlebihan dan berpotensi menimbulkan banjir. 
 
Heru menguraikan sejumlah metode modifikasi cuaca. Pertama, mempercepat proses awan menjadi hujan terhadap awan-awan yang sedang tumbuh sebelum bergerak memasuki Jakarta dan sekitarnya. 
 
”Metode ini dilakukan dengan penyemaian bubuk garam dapur ke awan hangat dengan pesawat udara,” kata Heru. 
 
Bahan semai dapat dikemas dalam bentuk flare yang dipasang pada sayap atau bawah pesawat. Partikel semai masuk ke awan jika flare terbakar. Bahan semai jenis ejectable flare juga bisa dimasukkan ke awan dengan ditembakkan dari pesawat pada jenis awan dingin. 
 
Cara lain, metode ground based generator, yaitu memanfaatkan potensi topografis dan angin lembah. Bahan semai berbentuk flare dibakar dari atas menara. Hal ini untuk merangsang terjadinya hujan. 
 
Roket juga dapat digunakan sebagai wahana menyampaikan bahan semai ke awan. BPPT bekerja sama dengan Lapan menjajaki kemungkinan teknologi ini diterapkan di Indonesia. 
 
Metode lain adalah penyemaian inti es pada ketinggian di atas 20.000 kaki (6.096 meter) untuk mengurangi curah hujan dari awan tebal kumulonimbus. 
 
Penerapan TMC harus memperhatikan metode yang sesuai dengan kehendak alam. Dengan demikian, banjir bisa dihindarkan dan cadangan air tanah tetap terjamin. (Kompas, 29 Januari 2013/ humasristek)