Memendam Air Meredam Banjir

sumurGubernur DKI Jakarta Joko Widodo memerintahkan pembangunan sumur resapan dalam jumlah besar untuk mengatasi banjir di Ibu Kota. Pembangunan puluhan ribu embung juga akan dilakukan untuk mengurangi genangan air. 
 
Alternatif ini menjadi solusi yang layak dari segi biaya dan ketersediaan lahan, sekaligus mengatasi kelangkaan air saat kemarau dan subsidensi tanah. 
 
Hujan lebat di Jakarta dan sekitarnya masih berpeluang terjadi hingga pertengahan Februari. Guyuran hujan berkali-kali menimbulkan genangan dan banjir. 
 
Bencana hidrometeorologi ini mendorong Gubernur DKI Jakarta memerintahkan, antara lain, pembangunan sumur resapan sedalam 4 meter-100 meter di 10.000 lokasi, pembangunan gorong-gorong berdiameter 16 meter dari Cawang sampai Pluit berjarak sekitar 19 kilometer, dan pembangunan waduk di Ciawi, Bogor. 
 
Dalam pertemuan Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama dengan 60 pakar terkait penanganan sumber daya air dan banjir, 22 Januari, disepakati pembangunan 500.000 embung di daerah tegalan dan lahan pertanian. Hal ini terutama dilakukan di kawasan hulu daerah aliran sungai (DAS) yang mengalir ke Jakarta, yaitu di Bogor dan Banten. 
 
Usulan yang dilontarkan Maik Sinukaban, Guru Besar Konservasi Tanah, Air, dan Pengelolaan DAS dari Institut Pertanian Bogor (IPB), disetujui Basuki. Pembangunan akan melibatkan petani di dua kabupaten itu dan wilayah Jakarta, terutama Jakarta Selatan dan Jakarta Timur. ”Petani yang membangun embung akan disediakan insentif Rp 1 juta,” kata Maik. 
 
Embung berupa lubang berukuran 5 meter x 5 meter sedalam 2 meter. Lubang dapat diisi limbah organik dari pertanian. Tiap embung rata-rata dapat menampung air 100 meter kubik dan menyerapkan air ke tanah 10 kali lipat volume. 
 
Jadi, 500.000 embung yang dibangun akan menyerap 500 juta meter kubik air kala hujan. Jumlah itu sepertiga air yang selama ini terbuang ke laut. 
 
Menurut perhitungan Maik, air yang ”terbuang” ke laut lewat 9 sungai utama di DKI sebanyak 1,3 miliar meter kubik-1,5 miliar meter kubik selama musim hujan per tahun. ”Air sebanyak itu dapat mengairi 30.000 hektar sawah dan digunakan 12 juta penduduk selama musim kemarau,” ujarnya. 
 
Hasil Sembiring dari Puslitbang Pertanian Kementerian Pertanian juga menyarankan pembuatan parit mengelilingi bagian atas, tengah, dan dasar perbukitan di kawasan pertanian di hulu DAS di Bogor. Di atas parit ditanami tanaman perdu agar tidak longsor. Diharapkan air meresap ke tanah melalui dasar parit. 
 
Sumur resapan 
 
Di Jakarta, warga diminta membangun sumur resapan. ”Pembuatan sumur resapan di tiap rumah merupakan kewajiban penduduk Jakarta karena telah ada peraturan daerahnya,” kata pakar hidrologi Teddy Sudinda dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana. 
 
Sumur resapan yang dibangun di perumahan, kata Bambang Priatmono dari Kompartemen Teknik Sipil Persatuan Insinyur Indonesia, dalamnya sekitar 1 meter. Bila tiap rumah membangun sumur resapan, akan sangat membantu mencegah genangan air saat hujan. Satu sumur resapan dangkal dapat memendam air minimal 1 meter kubik per jam. 
 
Di sumur resapan dangkal, air masuk ke tanah secara alami karena proses gravitasi. Untuk sumur resapan dalam, air harus dipompakan (diinjeksikan) sampai kedalaman tertentu. 
 
Sumur injeksi dibuat lewat pengeboran sedalam 200 meter. Bentuk akuifer diketahui dengan menerapkan peranti lunak pemodelan modflow. Setelah pengeboran dilakukan pemasangan selubung, kemudian dimasukkan pipa setebal 8 inci. Pada bagian ujung dipasang pipa berlubang-lubang. Total pembangunan memakan waktu 4 bulan, kata Teddy, yang pernah menjadi Koordinator Pelaksanaan Pengembangan Teknologi Resapan Buatan di Kementerian Ristek. 
 
Proyek percontohan sumur resapan dalam dilakukan tahun 2008 di pelataran Gedung Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) di Jalan Thamrin. Tujuannya untuk mencegah berlanjutnya penurunan permukaan tanah di sekitar gedung tersebut, akibat pengeboran air tanah. 
 
Kelebihan air selama musim hujan ditampung di sumur setelah proses pengolahan. Di sekitar sumur dibangun bak penampung dan pengolah air. 
 
Untuk membangun sumur diakui tidak murah. Setiap 1 meter kedalaman pengeboran biayanya Rp 1,5 juta. Namun, upaya ini dapat mengatasi bencana banjir dan krisis air yang kerugiannya bisa jauh lebih besar. 
 
Manfaat 
 
Dibandingkan dengan gorong-gorong air raksasa di bawah tanah yang pembangunannya menyerap dana sekitar Rp 16,4 triliun dan memakan waktu empat tahun, pembuatan sumur resapan jauh lebih murah. Sebab, konstruksinya sederhana, proses perencanaan dan pengkajiannya tidak memerlukan waktu lama, hanya sekitar seminggu hingga beberapa bulan. 
 
Pembangunan sumur resapan dapat segera dilaksanakan dan pengerjaannya dapat cepat terselesaikan. Jangka waktu pengerjaan tergantung dari kedalaman dan kekerasan tanah yang dibor. 
 
Penyimpanan air secara menyebar atau terfragmentasi, baik pada embung, sumur resapan, maupun kolam, jauh lebih aman dibandingkan dengan mengumpulkan dalam bendungan atau waduk. Jika bendungan jebol, potensi kebencanaannya lebih besar. (Kompas, 6 Februari 2013/ humasristek)