(0761) 35008 umri@umri.ac.id

Pengolah Limbah Bergerak

Pengolah Limbah Bergerak

upalLimbah batik menjadi masalah bagi daerah penghasil batik. Limbah proses pembatikan yang menggunakan pewarna sintetik menyebabkan pencemaran lingkungan jika tidak ditangani secara tepat. Zat pewarna sintetik, seperti Rhodamine, Naphtol, dan Remazol, sulit terdegradasi dan menurunkan kualitas air serta berbahaya bagi kesehatan. Sri Rejeki 
 
Selama ini, banyak perajin batik membuang langsung limbah ke sungai atau saluran air ketimbang mengolah limbah lebih dulu. Mereka beralasan praktis, tidak keluar biaya serta kurang paham tentang bahaya limbah pewarna bagi kesehatan dan lingkungan. 
 
Tim dosen dari Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, yang terdiri dari staf pengajar Jurusan Teknik Sipil, Budi Utomo; staf pengajar Teknik Arsitektur, Musyawaroh; dan staf pengajar Fakultas Ekonomi, Hunik Sri Runing Sawitri, menggagas pengolah limbah batik yang mudah digunakan. Budi Utomo merancang alat yang kerjanya menggunakan proses elektrokimia. 
 
Budi membuat bak reaktor berbahan fiber yang ringan, mudah dipindahkan, tetapi kuat untuk mewadahi proses elektrokimia. Bak berkapasitas 250 liter ini dipasangi pelat-pelat katoda berbahan besi. Pelat-pelat anoda dari aluminium dipasang berselang-seling dengan pelat katoda. Pipa-pipa paralon dipasang di atas pelat-pelat untuk menjaga agar pelat tetap berada di tempat masing-masing. 
 
”Cara kerja alat ini sederhana. Proses elektrokimia memisahkan air dengan zat warna yang mengandung partikel logam berbahaya, unsur mineral, dan bakteri. Saat katoda dan anoda dimasukkan ke dalam cairan dan dialiri listrik, akan menghasilkan gas-gas yang menjadi gelembung. Teorinya sudah ada sejak dulu, tetapi tantangannya adalah menerapkan dalam skala lapangan,” kata Budi Utomo, yang juga Kepala Laboratorium Teknik Penyehatan Fakultas Teknik UNS, Selasa (15/1), di Solo. 
 
Gas yang dihasilkan, yakni H2 oleh katoda dan O2 oleh anoda, menjadi gelembung sangat halus yang bergerak dari bawah ke atas. Pada saat itu, gelembung-gelembung akan berikatan dengan zat warna lalu bergerak ke atas menjadi kumpulan padatan yang mengapung di atas air. Perlu waktu 40 menit untuk menjernihkan 250 liter limbah cair dengan alat yang diberi nama Unit Pengolahan Air Limbah Reaksi Elektrokimia (UPAL-RE) ini. 
 
Sesuai baku mutu 
 
Air yang diolah dapat digunakan untuk mencuci. Kalaupun dibuang, sudah aman bagi lingkungan. Hasil pengolahan air limbah batik dengan UPAL-RE, kandungan chemical oxygen demand (COD) yang merupakan parameter kualitas air semula 155 miligram per liter menjadi 22 mg per liter (turun 85 persen). Adapun kandungan zat warna dari 339 PtCO (skala warna untuk mengevaluasi kadar polusi air limbah) menjadi 70 PtCO (turun 79 persen). Alat ini juga dapat menurunkan kadar bakteri E coli. 
 
Peraturan Gubernur Jawa Tengah Nomor 20 Tahun 2004 mengatur baku mutu COD sebesar 150 miligram per liter dan zat warna 50 PtCO. Kandungan zat warna yang tinggi selanjutnya diturunkan dengan penyaringan dengan arang dan pasir. 
 
Bak reaktor UPAL-RE dihubungkan dengan sumber tenaga, unit kontrol, dan adaptor yang dikemas dalam bentuk gerobak sehingga mudah keluar masuk gang-gang kecil di perkampungan batik. Di bagian bawah bak dibuat keran untuk mengalirkan air hasil pengolahan, di bagian atas bak dipasang kipas untuk mengembuskan padatan agar terpisah dari cairan dan ditampung di nampan yang terpasang di samping bak. Budi Utomo dibantu tiga teknisi, Ali Marhaban, Haryanto, dan Suyanto, untuk kelistrikan dan perlengkapan di luar bak reaktor. 
 
Menurut Ali, sumber listrik dengan arus AC 220 volt diubah menjadi arus DC 15 volt menggunakan adaptor. Dibutuhkan daya listrik 4.000 watt untuk menjalankan alat. Genset dapat membantu jika daya listrik pada industri rumah tangga tidak cukup. Sebenarnya, penggunaan listriknya sangat hemat, tidak sampai Rp 3.000 untuk sekali proses selama 40 menit. 
 
Operasional alat mudah karena hanya tinggal menekan tombol. Panel kontrol juga dilengkapi pengatur waktu kapan proses pengolahan selesai. Biaya pembuatan alat pengolah limbah ini Rp 35 juta. 
 
Ke depan, menurut Budi, pihaknya akan melanjutkan riset tentang pelat elektroda, waktu proses, dan modifikasi bak reaktor agar proses pengolahan mengalir. Saat ini, orang masih harus menuang air limbah ke dalam bak reaktor. Budi dan tim tengah memproses hak paten atas karya yang mulai dirintis tahun 2009. 
 
Konsep alat ini pernah dipresentasikan di sebuah acara lingkungan di Swedia. Para konsultan perkotaan dari tujuh negara di Asia telah melihat langsung cara kerja alat ini di Solo. (Kompas, 19 Januari 2013/ humasristek)