Merancang MRT Khas Jakarta


mrtMobilitas penduduk yang tinggi di Jakarta mengharuskan penerapan sistem transit cepat berskala massal atau mass rapid transit. Pembangunannya bukan hanya mengacu pada aspek tata ruang, kondisi lingkungan, dan pendanaan, melainkan juga kelayakan teknologi.


Jakarta dengan kota satelitnya, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi, yang dihuni sekitar 28 juta orang, merupakan kota metropolitan terbesar keenam di dunia. Kota Jakarta dengan luas lebih dari 661 kilometer persegi berpenduduk sekitar 10 juta orang. Pada siang hari, jumlah orang yang beraktivitas di Ibu Kota meningkat jadi 12 juta orang.

Meski memiliki tingkat kepadatan dan mobilitas tinggi, hingga kini DKI Jakarta belum memiliki sistem transportasi mass rapid transit (MRT). Padahal, pengkajian dan perancangan MRT dilakukan sejak 1982. Moda transportasi ini diproyeksikan telah beroperasi pada 1997, demikian paparan pakar transportasi Prasetyo Hatmodjo yang pernah terlibat dalam studi kelayakan MRT sejak 1987.

Studi kelayakan kedua dilaksanakan 2004, sejalan dengan pengaktifan kembali PT MRT Jakarta. ”Jika tidak terjadi krisis ekonomi pada 2008, MRT sudah beroperasi tahun 2013,” kata Erlan Hidayat, Corporate Secretary PT MRT Jakarta.

”Pengoperasian MRT tahun ini sesungguhnya penting untuk mencegah ’kiamat transportasi’,” kata Heru Nugroho, Kepala Divisi Sipil dan Struktur PT MRT Jakarta. Target ini mengacu pada Study on Integrated Transportation Master Plan for Jabodetabek (SITRAMP) tahun 2004. ”Studi itu menyimpulkan, tahun 2014 Jakarta akan macet total jika tidak ada penambahan ruas jalan dan tak ada perbaikan angkutan massal,” katanya.

Setelah sempat terhenti tahun 2009 hingga 2011, dibuat Desain Standar Teknis MRT. Standar ini meliputi rel, bagian konstruksi sistem jalan layang, dan jalan bawah tanah. Standar yang digunakan adalah Standard Urban Railway System for Asia. ”Standar yang digunakan lebih banyak mengacu pada standar sistem MRT yang digunakan Jepang,” kata Heru.

Pada rencana pembangunan itu, pembangunan konstruksi, sistem perkeretaapian, dan persinyalan akan selesai tahun 2017. Pengoperasian MRT jika ada komitmen dari Pemerintah DKI Jakarta dapat terlaksana pertengahan Mei 2017.

Tahap pertama

Proyek MRT yang dimaksud adalah pembangunan MRT Fase I pada jalur selatan-utara yang terbentang dari Koridor Lebak Bulus-Bundaran HI sepanjang 15,7 km. Pada jalur itu, sepanjang 9,8 km merupakan jalan layang mulai dari Lebak Bulus hingga Jalan Sisingamangaraja. Sisa 5,9 km berupa terowongan di bawah tanah terbentang hingga Bundaran HI.

Pertimbangan kombinasi konstruksi layang dan bawah tanah ini, antara lain, pada segi pendanaan dan penyesuaian dengan lingkungan sekitar. Konstruksi bawah tanah memerlukan biaya 2,5 kali lebih besar dibandingkan konstruksi layang.

Konstruksi bawah tanah dipilih dengan pertimbangan estetika kawasan Sudirman- Thamrin yang merupakan jalan protokol.

Konstruksi jalan MRT ini sama dengan jalan kereta api pada jalur Kota-Gambir hingga Manggarai. Karena itu, pembangunan jalan layang untuk MRT relatif tidak ada kesulitan karena teknisi Indonesia telah memiliki pengalaman.

Untuk pembangunan jalan layang MRT akan dilakukan pelebaran jalan di jalur dari Lebak Bulus hingga Sisingamangaraja hingga 22 meter. Saat ini jalur jalan 13-18 meter.

Pembangunan terowongan bawah tanah terdiri dari dua metode, yaitu penggalian terbuka dari Sisingamaraja hingga Senayan dan penggunaan mesin bor terowongan berdiameter 6,65 meter dari Senayan hingga Bundaran HI.

Sistem bor kemungkinan akan menggunakan sistem Jepang, yang dilengkapi dengan earth pressure balance, menjaga keseimbangan antara tekanan bor dan kekuatan tanah. Hal ini untuk mencegah runtuhnya dinding saat pengeboran. Pengeboran diikuti dengan pemasangan casing terowongan yang terbuat dari beton pracetak.

Sistem itu dilengkapi sensor untuk menjaga jalur dan kedalaman terowongan dengan presisi tinggi. Kedalaman terowongan 13-18 meter dari permukaan tanah. Stasiun pertama di bawah tanah berada di bawah Ratu Plasa. Semuanya akan ada 6 stasiun bawah tanah.

Jarak rel kiri dan kanan (rail gauge) serupa dengan kereta api yang ada, yaitu 1.067 mm. Hal ini agar pada masa mendatang dimungkinkan penyatuan jalur.

Moda transportasi ini dapat melayani penumpang hingga 173.000 orang per hari pada tahun pertama operasi. Moda ini mampu mengurangi waktu tempuh dari Lebak Bulus-Bundaran HI hingga 28 menit dibandingkan lewat jalan biasa dalam kondisi lalu lintas lancar.

Dampak positif lain operasional MRT adalah mengurangi emisi karbon dioksida dari pembakaran bahan bakar minyak kendaraan sebanyak 30.000 ton hingga 2020. Selain itu, dapat pula menambah 48.000 lapangan kerja selama lima tahun masa konstruksi. Penggunaan MRT juga mengurangi tingkat kecelakaan lalu lintas serta meningkatkan perkembangan sosial dan ekonomi masyarakat. (Kompas, 9 Januari 2013/ humasristek)