(0761) 35008 umri@umri.ac.id

Sijampang dan Kompi 887

Sijampang dan Kompi 887

banjirPenggunaan radar untuk memantau pertumbuhan awan dapat digunakan untuk memprediksi terjadinya hujan lebat di satu kawasan. Perpaduan data ini dalam Sijampang dan kolaborasi dengan Kompi 887 membentuk sistem peringatan dini banjir di Daerah Aliran Sungai Cikeas, Cileungsi, hingga Kali Bekasi.

Banjir di Kali Bekasi yang merupakan pertemuan Sungai Cikeas dan Cileungsi kerap terjadi saat hujan lebat di hulu dua sungai itu. Luapan air sungai mulai dianggap sebagai bencana tahun 1990-an ketika di bantaran Kali Bekasi bermunculan perumahan.

Berulangnya banjir pada 1992 menginisiasi komunitas di Perumahan Pondok Gede Permai yang ada di hulu Kali Bekasi untuk memantau kenaikan muka air sungai. Tahun 1994 mulai dilakukan pemantauan dari hulu Cikeas-Cileungsi hingga hilir di Muara Gembong.

Komunitas pemantau banjir ini tahun 2009 menamakan diri Kompi (Komunitas Peduli Informasi) 887. Mereka menggunakan radio amatir atau HT berfrekuensi 138,87 megahertz.

Sistem peringatan dini banjir dilengkapi dengan Sistem Informasi Hujan dan Genangan Berbasis Keruangan (Sijampang).

Sistem informasi ini berbasis data pemantauan massa udara dari stasiun radar milik Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) dan data curah hujan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Adapun pos pengamatan Kompi 887 dari hulu hingga hilir tiga DAS ada 17 pos. Dalam sistem peringatan dini banjir, kata Imam Satrio, Koordinator Kompi 887, data muka air dari hulu Sungai Cikeas dan Cileungsi jadi patokan.

Sistem peringatan terbagi tiga tingkatan: Siaga 3 hingga Siaga 1. Bila muka air di hulu mencapai di atas 300 cm akan dikeluarkan peringatan Siaga 1, ketinggian 300 cm status Siaga 2, di bawah 200 cm Siaga 3.

Untuk peringatan dini banjir, Imam berada di Pos Utama atau Pos Pengamatan Cileungsi-Cikeas (P2CC) akan menyebarkan pesan singkat (SMS) kepada 38 ketua RW, selain ke pos pemantau lain melalui Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI).

Dari tiap pos peringatan, informasi disiarkan lewat pengeras suara di masjid dan pemberitahuan oleh petugas satpam berkeliling. Warga di kawasan itu kemudian beramai-ramai menjadi anggota RAPI.

Sistem peringatan dini banjir berbasis komunitas ini membantu warga menyelamatkan harta benda saat banjir besar tahun 2007. Banjir itu mencapai tinggi 2,5 meter dan melanda 1.564 keluarga.

Rumah warga di daerah itu 80 persen bertingkat dua sehingga mereka dapat mengamankan hartanya dan memarkir mobil di jalan yang lebih tinggi.

Terjangan banjir dapat diantisipasi karena hujan di hulu Cileungsi akan sampai ke Pos Pengamatan Cileungsi-Cikeas setelah 4 jam. Hujan di hulu Cikeas akan terdampak 1-2 jam kemudian di lokasi itu.

Dari P2CC ke bendung Kali Bekasi makan waktu 1 jam. Waktu untuk sampai ke Muara Gembong perlu tiga jam. ”Pemberitahuan kondisi muka air membuat penduduk di bantaran kali punya waktu untuk evakuasi. Petani tambak di Muara Gembong punya waktu 8 jam untuk menyelamatkan ikannya,” ujar Imam.

Pemantauan banjir oleh warga dilakukan secara intensif mulai September hingga April. Ketika terjadi peningkatan muka air, pengukuran dilakukan tiap jam. Pemberitahuan dikirimkan beberapa kali dalam sehari.

Pemantau otomatis

Aktivitas Kompi 887 sejak tahun 2009 didukung sistem pemantauan otomatis. Selama ini pengukuran tinggi muka air menggunakan hidrometer. Alatnya berupa tiang vertikal. Di bagian tengah tiang ditandai garis-garis yang menunjukkan ketinggian.

Di pos pengamatan P2CC juga dipasang automatic water level recorder (AWLR) yang diadakan lewat kerja sama Kompi 887 dengan Nusantara Earth Observation Network (NEONet) BPPT.

Sistem ini berupa tabung logam bulat yang dipasang di tepi sungai. Di dalam tabung ada sensor yang akan mencatat ketinggian air. Data dikirimkan lewat kabel ke kotak pengontrol mikro di pos pengamatan. Selanjutnya data ditransmisikan dengan modem GSM ke server di stasiun pusat.

Sistem komputer di Stasiun Pusat di BPPT Jakarta akan menganalisis data dikombinasikan dengan pola cuaca. Hasilnya digunakan untuk memprediksi banjir jangka menengah dan panjang. ”Penggunaan sistem otomatis ini memungkinkan pemantauan 24 jam dan mengurangi human error,” kata Lena Sumargana dari NEONet BPPT.

Selain pemantauan ketinggian sungai, untuk peringatan dini banjir digunakan hasil pantauan radar Doppler C Band di Serpong yang meliputi radius 105 km dan data intensitas hujan. Ketinggian awan hujan yang dapat terpantau radar adalah 500 meter-2.000 meter di atas permukaan bumi.

Menurut Koordinator Program Sijampang Udrekh yang juga Kepala Bidang Teknologi Mitigasi Bencana BPPT, data analisis kondisi atmosfer dianalisis dan dipadukan dengan data curah hujan dalam peta spasial berbasis Google map. Informasi ditampilkan dalam situs web NEONet (www.neonet.bppt.go.id /sijampang). Sijampang juga ditampilkan dalam bentuk teks yang dapat diakses melalui Twitter dan WordPress. (Kompas, 26 Desember 2012/ humasristek)