Tiga Mahasiswa UNS Temukan Messenger Ala Indonesia

mesengerBerawal dari kekesalan sering troublenya  messenger yang saat ini ada, seperti Facebook, Twitter, Yahoo Messenger What’s APP, Blackberry Messenger, tiga mahasiwa dari Fakultas Olahraga, Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Jawa Tengah, menemukan inovasi dalam berkomunikasi yang mereka beri nama Gold Messenger.

Zandra Dwanita Widodo salah satu penemu mengatakan, cara kerja Gold Massenger ini tidak berbeda dengan messenger yang selama ini ada. Hanya saja yang membedakan dengan messenger yang ada yaitu keberadaan servernya.

Bila What’s APP, Blackberry Messenger keberadaan servernya ada di luar negeri, sedangkan Gold Messenger ini servernya ada di dalam negeri tepatnya di Kota Solo,Jawa Tengah.

“Jadi bila penduduk Indonesia beralih menggunakan Gold Messenger, maka kita telah berhemat sebesar Rp 7 triliun setiap harinya. Tanpa kita ketahui, negara setiap tahunnya membayar royalti Rp7 triliun kepada negara lain atas messenger yang selama ini kita pakai,” jelasnya.

Selain bisa menghemat keuangan negara, bila terdapat kasus seperti yang saat ini menimpa Anggelina Sondak, pemerintah tidak perlu merengek-rengek meminta bukti kepada negara lain tempat server messenger tersebut berada.

“Meskipun server Gold Messenger ini ada di Tanah Air, namun kami jamin kerahasiaannya terjamin,” paparnya.

Hanya saja, belum adanya prodak komunikasi yang mau menerima kreasi Zandra Dwanita Widodo, Hendrik priyo utomo, Bughy Rubiyanto ini sehingga konsumen harus mendownload terlebih dahulu  I’M. ZERO-PRICE.COM.

“Setelah itu, seperti messenger yang ada, kita mengisi biodata, dan juga password,” paparnya sambil menunjuk tampilan Gold Messenger seperti Yahoo Messenger.

Zandra menjamin, mendownload Gold Messenger ini tidak akan berpengaruh apapun terhadap alat komunikasi maupun komputer.

Sebenarnya penemuan ini oleh ketiganya telah diikutkan dalam lomba kreasi. Namun,hanya dengan alasan penemuan ini biayanya dianggap terlalu besar melebihi Rp10 juta,maka penemuan messenger ketigannya gagal masuk 10 besar penemuan anak bangsa nasional. (kampus.okezone.com/ humasristek)