Jatisurya, Bus Ciptaan Mahasiswa ITS

busKemacetan dan polusi udara dari kendaraan bermotor merupakan dua masalah utama yang ada di Ibu Kota. Untuk itu, empat mahasiswa Jurusan Teknik Mesin Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya mencoba menghadirkan solusi atas permasalahan tersebut.

Muhammad Fadlil Adhim, Gustie Aufar Dhaffi Suroso, Muhamad Zainulloh Rizal, dan Pradana Setia Budi Laksana menciptakan sebuah sarana transportasi massal dengan bahan bakar ramah lingkungan. Bus berbahan bakar biodisel dan solar cell itu diberi nama Jatisurya.

Kendaraan besutan para mahasiswa angkatan 2010 itu dapat menampung 50 penumpang dengan kapasitas 35 orang duduk dan 15 orang berdiri. Dengan menggunakan solar cell dan biodisel, rancangan ini juga memiliki panel surya dan mesin listrik serta baterai. “Namun, dalam proses bus berjalan, tidak selalu semuanya digunakan. Sehingga, terdapat beberapa tombol mode di atas kemudi bus,” ujar Gustie, seperti disitat dari ITS Online.

Jatisurya merupakan solusi nyata dan dapat direalisasikan. Tidak heran, tim di bawah asuhan Yohanes itu berhasil meraih juara pertama lomba tahunan Rancang Bangun Mesin yang digelar oleh Badan Kerjasama Teknik Mesin (BKTM) seluruh Indonesia.

Menurut Dosen Jurusan Teknik Mesin ITS itu, permasalahan yang dapat diselesaikan oleh rancangan bus ini amat nyata dan menjadi nilai lebih dalam penilaian juri. Kemungkinan aplikasi serta nilai produksi manufakturnya pun jelas. ”Nilai plus kami adalah dapat diperbanyak dengan proses pabrik,” tutur Yohanes.

Dalam aplikasinya, pembuatan Bus Jatisurya memang cukup mahal di awal. Sebab, terdapat dua komponen yang memakan banyak biaya, yakni panel surya dan baterai. “Namun, saat penggunaan dan perawatan, biayanya cukup murah karena mesinnya tidak banyak dipakai dalam prosesnya,” ujarnya.

Dari kompetisi tersebut, empat mahasiswa ini berhasil mengantongi uang pembinaan sebesar Rp20 juta. Jumlah dana serta prestasi tersebut seakan membayar usaha yang telah mereka lakukan sejak dua bulan yang lalu. Bahkan, keempat pemuda ini rela tidak pulang kampung saat Lebaran demi menuntaskan proyek tersebut. (okezone.com/ humasristek)