Sorot Kesejahteraan Wartawan

Mahasiwa Antusias Mengikuti Seminar Jurnalistik JPRR

PEKANBARU, TRIBUN – Organisasi Jaringan Pencerdasan Rakyat Riau (JPRR) fasilitasi seminar jurnalistik dengn tema ‘Profesioonalisme Jurnalistik Hari Ini’, di aula kampus Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI), Jl K.H. Ahmad Dahlan, Pekanbaru, senin (29/10).

Ratusan peserta yang berasal dari utusan sejumlah utusan perguruan tinggi di Pekanbaru, terlihat antusias mengikuti rangkaian acara yang dipandu akademisi Aidil Harris. Hadir sebagai pembicara, Sekretaris umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) cabang Riau, Eka Putra dan Pemimpin redaksi Harian Rakyat Riau, Alnofrizal.

Ketua panitia, Muhammad Untung Suropati, mengatakan, kegiatan itu digelar untuk menambah wawasan mahasiswa, khususnya mahasiswa komunikasi dibidang jurnalistik.

“Alhamdulillah acara berlangsung sukses dan mendapat respon positif dari sejumlah peserta. Banyak hal menarik yang didapat dari acara ini, terutama tentang tugas-tugas jurnalistik,” ujar untung kepada Tribun usai acara.

Sementara dalam diskusi tersebut, eka secara gamblang menggambarkan sikap profesionalisme jurnalistik masa kini yang dinilai terus berkembang.

“Perkembangan jurnalistik saat ini sangat positif, jika dibandingkan pada saat masa orde baru. Diantaranya soal keterbukaan informasi. Namun, masih banyak tantangan dan persoalan yang harus dihadapi, misalnya soal kesejahteraan wartawan,” ujar Eka.

Dikatakan, kesejahteraan wartawan yang menjalankan profesi jurnalistik erat kaitannya dengan kasus suap yang melibatkan oknum wartawan. Profesi wartawan juga banyak disalahgunakan oleh orang-orang yang mengaku berprofesi sebagai wartawan dengan bermodalkan kartu wartawan.

“Melalui diskusi semacam itu, kita berharap dapat memberikan nilai edukasi kepada mahasiswa. Sehingga, kelak apabila ada mahasiswa yang tertarik menekuni profesi jurnalistik, betul-betul bisa profesional.

Dalam kesempatan yang sama, Alnofrizal membeberkan profesionalisme dalam prespektif perusahaan pers. Ia tak menampikkan, masih banyak wartawan yang menjalankan profesi jurnalistik tidak sesuai dengan kode etik jurnalistik.

“Ada dua persoalan yang dihadapi wartawan dalam menjalankan profesi jurnalistik. Pertama kepentingan profesi dan yang kedua kepentingan perusahaan yang menggaji dirinya. Terkadang dua kepentingan ini berjalan tidak sealur,” ujarnya.

Persoalan lain adalah, wartawan yang menjalankan profesi jurnalistik berasal dari latar pendidikan beragam. Alhasil diantara mereka ada yang memiliki pengetahuan terbatas tentang jurnalistik, karena tidak berasal dari sarjana komunikasi.

“Kalau advokat kan jelas harus sarjana hukum, bidan harus sarjana kebidanan, akuntan harus dari akuntansi. Sementara jurnalistik tidak mengharuskan sarjana komunikasi. Praktis tidak semua wartawan mengetahui secara baik tentang profesi jurnalistik,” katanya. (rbp)