(0761) 35008 umri@umri.ac.id

Mengantisipasi Datangnya Sang Pembunuh

Mengantisipasi Datangnya Sang Pembunuh

hpAorta Life adalah sebuah aplikasi telepon seluler yang berfungsi memantau detak jantung seseorang, mengolah datanya, kemudian memberikan diagnosis sederhana mengenai kondisi jantung. Setiap indikasi masalah pada jantung bisa diketahui lebih cepat sehingga bisa diambil tindakan penanganan.

Aplikasi ini dibuat oleh Newbee.Corp yang dijalankan tiga lulusan Institut Teknologi Telkom Bandung, Harland Firman Agus, Evan David Kristian, dan Emille Junior. Mereka memanfaatkan alat pembaca denyut jantung yang bisa dibaca telepon seluler (ponsel), lalu datanya dikirimkan ke server. Dari server, informasi dikirimkan kepada dokter pribadi atau anggota keluarga.

Idenya berawal dari keprihatinan bahwa penyakit jantung merupakan pembunuh nomor satu di dunia dan menyumbang 29 persen dari kematian penduduk dunia setiap tahun. Di Indonesia, penyakit jantung berada di peringkat kedua, yang menyebabkan 26,8 persen kematian penduduk.

”Mayoritas penderita penyakit jantung adalah penduduk berusia 65 tahun ke atas,” kata Harland saat ditemui, awal Oktober.

Kejadian yang paling sering adalah kakek atau nenek yang tinggal sendirian di rumah mendadak mengalami masalah pada jantung. Kerabat atau tetangga umumnya baru mengetahui beberapa jam kemudian dan biasanya berakhir fatal. Aorta Life dirancang dengan tujuan bisa memberikan peringatan jika kerabat mereka bermasalah dengan jantung.

Aplikasi ini mendapat penghargaan di tingkat Provinsi Jawa Barat dalam sebuah kompetisi yang digelar Bandung Digital Valley, September 2012.

Saat ini, tiga sekawan itu tengah mengembangkan aplikasi menggunakan sistem operasi lain, Windows Mobile, agar bisa diikutsertakan dalam kompetisi internasional Microsoft Imagine Cup 2013.

Kirim data

Untuk kebutuhan pribadi, sebenarnya sudah ada alat pemantau detak jantung portabel di pasaran, tetapi harganya paling murah Rp 2 juta per unit. Itu pun masih memiliki keterbatasan, hasil pembacaan hanya diketahui penderita dan sulit dilakukan terus-menerus.

Kendala tersebut dijawab Newbee.Corp dengan merilis Aorta Life. Pada tahap awal, mereka masih memanfaatkan produk dari pihak lain, Zephyr HXM, untuk membaca detak jantung dan memiliki fitur pengiriman data melalui koneksi nirkabel bluetooth ke ponsel dengan sistem operasi Android. Di situs Zephyr, harga satu pembaca detak jantung 75 dollar AS (sekitar Rp 712.500), belum termasuk biaya kirim.

”Kami tengah mengupayakan sponsor untuk bisa mendatangkan dalam jumlah banyak agar harga satuannya lebih terjangkau,” ujar Harland.

Melalui kerja sama dengan peneliti lain, mereka berharap ada produk dalam negeri yang bisa menggantikan alat pembaca detak jantung yang sekarang digunakan, dengan harga lebih terjangkau.

Dalam pemakaiannya, alat pembaca detak jantung dililitkan di tengah dada. Ukurannya yang kecil membuat alat itu tidak terlalu mengganggu aktivitas sehari-hari. Setelah dihubungkan dengan ponsel Android yang dipasangi aplikasi Aorta Life, alat tersebut mengirimkan hasil pembacaan terus-menerus ke ponsel, berupa detak jantung, posisi, hingga grafik untuk menunjukkan fluktuasi detak jantung.

Oleh ponsel yang tersambung dengan internet, data tersebut dikirimkan ke server untuk dikalkulasi dan mendapatkan kesimpulan, misalnya jantung sedang dalam kondisi sehat atau sebaliknya. Jika mendapatkan kinerja jantung tidak normal, lebih cepat atau lebih lambat, server mengirimkan kabar melalui layanan pesan singkat atau pemberitahuan kepada pengguna aplikasi lain yang datanya sudah dimasukkan.

Dengan demikian, jika kakek atau nenek yang tinggal sendirian di rumah tiba-tiba bermasalah dengan jantungnya, aplikasi tersebut segera mengirimkan peringatan kepada keluarga dekat, dokter, atau tetangga. Jadi, pertolongan bisa segera diberikan untuk menghindari kejadian lebih buruk.

Lingkar pertolongan

Mekanisme pemberitahuan kepada orang terdekat itulah yang menjadi fitur utama dalam aplikasi Aorta Life. Pengguna bisa menentukan siapa saja yang akan mendapatkan pemberitahuan jika ada masalah menimpa jantungnya. Harland menyebutnya sebagai circle of help alias lingkar pertolongan.

”Pesan dari aplikasi kami adalah agar semua orang lebih peduli kepada sesama dan saling mendukung,” kata Harland.

Pemanfaatan aplikasi ini tidak hanya untuk orang lanjut usia. Para pelatih olahraga juga bisa terbantu dalam memantau kondisi jantung para atlet didiknya.

Begitu mengetahui ada masalah, mereka bisa mengambil tindakan. Dengan demikian, tragedi pemain sepak bola yang kolaps di lapangan gara-gara masalah jantung, seperti Piermario Morosini, pemain dari klub Serie-B Livorno, sewaktu bermain menghadapi Pescara, April 2012, tidak perlu terjadi.

Rencana pengembangan aplikasi ini selanjutnya adalah mengintegrasikan dengan media sosial yang ada, bahkan membuat media sosial sendiri. Dengan demikian, nantinya para pengguna pembaca detak jantung bisa saling mendukung dan menguatkan, termasuk saling mengingatkan jika ada yang bermasalah dengan jantungnya. (Kompas, 19 Oktober 2012/ humasristek)