(0761) 35008 umri@umri.ac.id

Mobil Listrik, Dipantau dengan “Smartphone”

Mobil Listrik, Dipantau dengan “Smartphone”

molisPada mobil yang dinamai eQ, Toyota mengombinasikan teknologi mobil listrik dengan teknologi informatika. Energinya dapat dipantau dengan ”smartphone” alias telepon seluler pintar. Mobil ini siap dipasarkan secara terbatas mulai Desember 2012 di Jepang dan Amerika Serikat.

”Teknologi terbaru ini masih tergolong mahal. Penggunaan teknologi transportasi ramah lingkungan seharusnya mendapat insentif dari tiap pemerintah,” kata Vice Chairman of the Board Toyota Motor Corporation Takeshi Uchimayada dalam konferensi pers, Senin (24/9), di Tokyo, Jepang.

Wartawan lokal dan dari sejumlah negara yang diundang mendapat kesempatan untuk tes mengendarai mobil eQ. Ketika mesin menyala, tetap saja hening. Hanya kedip lampu indikator mesin menjadi tanda mesin mobil sudah hidup.

Setelah memindahkan transmisi netral ke transmisi berjalan dan menginjak pedal gas, baru benar-benar terasa kerja mesin mobil itu. Tanpa suara, mobil melaju. Toyota akan memasarkan mobil tersebut dengan harga 3,6 juta yen (sekitar Rp 440 juta).

Uchimayada dikenal sejak tahun 1990-an memimpin rekayasa penggunaan sumber energi alternatif untuk kendaraan Toyota. Jadilah beberapa tipe yang diberi nama Prius dengan menggunakan sumber energi campuran (hibrid), yaitu listrik dan bahan bakar bensin.

Mobil eQ dirancang sebagai mobil kota (city car ) yang ramping dengan empat kursi penumpang. Mobil itu sepenuhnya menggunakan bahan bakar listrik meskipun eQ merupakan pengembangan city car iQ sebelumnya yang menggunakan bahan bakar bensin.

Isi listrik

Telepon seluler (ponsel) pintar untuk memantau cadangan energi mobil listrik eQ merupakan pengembangan yang penting. Namun, peningkatan teknologi pengisian energi listriknya juga tidak kalah penting. Untuk memenuhi 80 persen kapasitas energinya hanya diperlukan waktu 15 menit.

Shamoto Sumikazu sebagai General Manager Proyek Mobil Listrik Toyota menjelaskan, kemampuan mengisi listrik 15 menit itu menggunakan aliran listrik DC rapid charging. Secara normal, aliran listrik rumah tangga umumnya menggunakan kisaran AC 110 volt dan 220 volt.

Saat menggunakan listrik AC 100 volt, waktu pengisian (charging) yang dibutuhkan adalah delapan jam. Adapun dengan listrik AC 200 volt, waktu pengisian hanya tiga jam.

Pemantauan cadangan energi dengan ponsel pintar sangat menunjang penggunaan jenis mobil ini. Kapasitas baterai penuh hanya mampu menempuh jarak maksimum 100 kilometer, menjadikan mobil eQ tidak untuk jarak jauh.

Motor penggerak yang digunakan pada mesin mobil eQ membutuhkan daya 47 kilowatt. Ketika uji mengendarai mobil ini, tidak terasa bedanya dengan mobil sejenis lain yang berbahan bakar bensin.

Toyota mengklaim mobil tersebut bisa dipacu sampai kecepatan maksimum 125 kilometer per jam.

Mobil eQ dengan panjang 3,115 meter, lebar 1,68 meter, dan tinggi 1,535 meter itu terasa stabil ketika dicoba dengan kecepatan di atas 60 kilometer per jam. Baterai litium-ion yang digunakan pun kompak, tidak memenuhi ruang. Kapasitas baterai ini 12 kilowatt jam.

Hasil uji konsumsi listrik mobil eQ dalam hal konsumsi listrik mencapai 104 watt jam per kilometer. Ini termasuk paling irit konsumsi listrik untuk jenis kendaraan di dunia. Dengan 100 persen cadangan listrik tersimpan dalam baterai, mobil eQ bisa menempuh perjalanan normal dan bidang datar hingga 100 kilometer.

Masih fokus di hibrid

Uchimayada mengatakan, mobil listrik digunakan secara terbatas untuk satu wilayah perkotaan. Pengembangan mobil hibrid saat ini sebenarnya lebih ditekankan. Hingga tahun 2015, Toyota menargetkan 21 model mobil hibrid dipasarkan di tingkat internasional.

”Di Indonesia, saya melihat yang lebih diminati adalah Toyota Kijang. Untuk penggunaan jenis hibrid akan jauh lebih mahal. Diharapkan pemerintah yang berkomitmen terhadap lingkungan memberikan insentif bagi konsumennya,” ujarnya.

Menurut Uchimayada, masih ada peluang meningkatkan efisiensi penggunaan bahan bakar fosil untuk berbagai jenis kendaraan. Misalnya, masih ada energi kalor (panas) dari hasil pembakaran yang belum dimanfaatkan sebagai energi alternatif.

Selain itu, inovasi mesin berbahan bakar bensin masih memiliki peluang untuk ditingkatkan efisiensinya. Energi kinetik (gerak dari roda yang berputar) masih memungkinkan diolah lebih optimal sebagai sumber gerak yang menghasilkan listrik.

Pemerintah Indonesia yang baru-baru ini mengampanyekan produk mobil listrik bisa mempelajari betapa tidak mudah membuat lompatan menuju penggunaan mobil listrik. Penggunaan metode hibrid untuk saat ini lebih realistis. (Kompas, 3 Oktober 2012/ humasristek)