Irwan Effendi : UMRI Harus Persiapkan Diri Bersaing dengan PTS Besar

“UMRI sebagai Perguruan Tinggi Muhammadiyah, saat ini harus mempersiapkan diri bersaing dengan PTS maupun PTN besar di tingkat Regional maupun Nasional minimal dalam perankingan universitas dunia versi Webometric”, demikian cuplikan materi yang disampaikan oleh Prof. Dr. H. Irwan Effendi,M.Sc, selaku ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Riau dalam kegiatan Baitul Arqam Dosen dan Karyawan Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI) Angkatan ke-4.

Materi tersebut merupakan materi pertama yang disajikan panitia pada hari pertama dari 3 hari yang direncanakan. Kegiatan Baitul Arqam ini diselenggarakan oleh LSIK UMRI bekerja sama dengan MPK PWM Riau yang dilangsungkan di Aula Kampus III UMRI, Jl. KH Ahmad Dahlan 88, Pekanbaru, Riau. Prof. Dr. H. Irwan Effendi,M.Sc, menyampaikan materi tentang Strategi Peningkatan Mutu Perguruan Tinggi. Dalam pemaparannya beliau menyampaikan bahwa saat ini perguruan tinggi memasuki era globalisasi, era persaingan dan era keterbukaan. Perguruan tinggi tidak hanya dituntut menyelenggarakan pendidikan secara sistematis dan bermutu tapi juga harus menguasai pengetahuan dan teknologi. “Perguruan tinggi yang menguasai kedua hal itu akan menguasai dan mampu bersaing di abad 21 ini”, lanjut beliau.

Lebih lanjut menurut beliau, bahwa untuk bersaing dan meningkatkan mutu perguruan tinggi tersebut ditentukan oleh tiga komponen utama yaitu input, output dan outcome. Kualitas dari sisi input ditentukan oleh jumlah dosen, fasilitas laboratorium, koleksi perpustakaan, sarana prasarana, jumlah karyawan, jumlah mahasiswa, profil yayasan dan sistem manajemen. Kualitas Output ditentukan oleh : publikasi buku ilmiah, jurnal, karya ilmiah, pertemuan ilmiah, workshop dan pelatihan, masa studi mahasiswa, Indeks Prestasi Komulatif Rata-rata, rasio mahasiswa mengulang, dan lain sebagainya. Sedangkan kualitas outcome ditentukan oleh : karya nyata di masyarakat, karya nyata alumni, masa tunggu kerja alumni, gaji alumni dan prestasi alumni.

Tampil sebagai pemateri kedua dalam hari pertama Baitul Arqam kali ini adalah Drs. Eddy Marioza, Ketua Majelis Pendidikan Kader PWM Riau, dengan tema Profil Kader Muhammadiyah. Dalam pemaparannya, beliau menghimbau bahwa dosen dan karyawan UMRI dapat menjadi bagian sebagai kader Muhammadiyah yang merupakan orang-orang pilihan yang berjuang dengan penuh semangat di lingkungan masing-masing baik untuk memajukan amal usaha Muhammadiyah terlebih lagi persyarikatan Muhammadiyah. Untuk memujudkan hal tersebut perlu ditanamkan tiga kompetensi dasar yaitu : pertama, aspek keberagamaan yang dicirikan dengan :  kemurnian aqidah berlandas alquran dan hadits yg shahih, ketekunan beribadah, keikhlasan, shidiq/jujur, amanah dan berjiwa gerakan. Kedua, aspek Akademis dan intelektual yang dicirikan dengan :  fathonah/cerdas, tajdid/pembaharuan, istiqomah/konsisten, etos belajar dan arif/bijaksana. Ketiga, aspek sosial dan kemanusiaan yang dicirikan dengan :

keshalehan, kepedulian sosial, suka beramal, keteladanan, tabligh/menyampaikan, komunikatif dan terampil dalam membangun jaringan.

Sementara itu dalam materi ketiga/terakhir hari pertama, pemateri yang tampil adalah Prof. Dr. Muhammad Nazir, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sutan Syarif Kasim Riau dengan tema : Faham Agama dan Muhammadiyah. Dalam materinya, beliau sangat menyayangkan sebagian masyarakat saat ini menganggap Muhammadiyah sebagai aliran atau agama yang seolah-olah terpisah dari Islam. “Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah berjamaah justru berjuang untuk memurnikan ajaran Islam berdasarkan Al Quran dan Sunnah Nabi yang shahih. Untuk itu diperlukan kerja keras bagi semua elemen pimpinan maupun warga Muhammadiyah untuk mengatasi pemikiran-pemikiran seperti itu”, tegas beliau.

Lebih lanjut beliau menyampaikan bahwa Muhammadiyah berfihak pada perubahan dan mengikuti sunnatullah karena alam/dunia ini diciptakan dengan sifat baharu atau terus berkembang. Muhammadiyah sangat menolak taqlid atau taat membabi buta. Untuk itu dalam Muhammadiyah dikenal istilah ijtihad sebagai wadah untuk pembaharuan. Dulu Islam pernah berjaya karena dinamika pemikiran, namun kemudian mundur karena ada pengkerdilan pemahaman penerapan Islam bahkan terjadi salah kaprah dalam implementasi Islam. (Hsn).

Blog Attachment