T-Box di Ruang Merokok

Hermawan Maulana dan Zihramna Afdi, siswa SMA 3 Semarang, menciptakan alat pemisah karbon dan oksigen untuk ruang merokok: T-Box. Teknologi itu menjadi tawaran solusi perdebatan di antara merokok sebagai hak atau merampas hak orang lain yang ingin mendapatkan kualitas udara bersih.

Alat itu menggunakan prinsip pengikatan karbon (C) oleh kutub positif dengan aliran listrik bertegangan tinggi sampai 2 kilovolt. ”Karbon dari asap rokok (karbon dioksida atau karbon monoksida) diurai, sisanya menjadi oksigen (O2) serta ozon (O3),” kata Hermawan, Senin (2/7), ketika ditemui di Bandara Soekarno-Hatta, sepulang dari International Exhibition for Young Inventors di Bangkok, Thailand.

IEYI berlangsung pada 28-30 Juni 2012. Karya ilmiah Hermawan dan Zihramna memperoleh penghargaan medali emas dari kegiatan yang diikuti sembilan negara Asia tersebut.

Peserta dari Indonesia lainnya, yang juga meraih medali emas, Linus Nara Pradhana, siswa kelas 1 SMP Petra Surabaya. Temuannya berupa helm berpendingin air. Empat peserta lain memperoleh medali perunggu dan penghargaan spesial.

Mereka sebelumnya para pemenang dan finalis perlombaan setiap tahun, National Young Inventors Awards (NYIA), yang diselenggarakan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Juni 2011. Kegiatan itu untuk merangsang minat riset di kalangan anak muda.

”Alat pengurai karbon dan oksigen itu disusun dengan komponen-komponen elektronik yang mudah ditemui dan dengan harga terjangkau,” kata Hermawan.

Menghasilkan oksigen

Keuntungan lain dari pemanfaatan T-Box adalah mampu menghasilkan oksigen yang dapat disalurkan kembali ke ruang merokok. Ini sangat menunjang kesegaran jika ruang merokok itu dijejali perokok.

Pembangkit frekuensi atau pulsa yang disebut timer, menurut Hermawan, adalah otak dari T-Box. Sejumlah komponen elektronik yang disusun untuk pembuatan timer meliputi IC NE 5555, TIP 2955, dan komponen-komponen lain yang dipasang pada papan sirkuit (printed circuit board/PCB).

Timer merupakan rangkaian multivibrator pengendali waktu menyala atau mati saat T-Box menerima aliran asap rokok. Pengujian timer ini dengan oksilator untuk mengecek sinyal gelombang pulsa rangkaian itu.

Timer dihubungkan trafo dan ignition coil yang diambil dari komponen sepeda motor sebagai penghasil listrik bertegangan tinggi. Dari ketiga komponen itu kemudian dipasang ke dalam sebuah kotak. Jadilah otak T-Box disertai komponen untuk mengatur dan menaikkan listrik bertegangan listrik.

Perangkat itu kemudian dipasang ke dalam kotak yang lebih besar. Kotak itu akan dialiri asap rokok.

Pada kotak tersebut dirangkai pula susunan pengikat karbon berupa sekrup yang nantinya dialiri listrik bertegangan tinggi di kutub positif.

Dibutuhkan PCB untuk memasang sekrup-sekrup baja antikarat. PCB yang digunakan Hermawan dan Zihramna itu berukuran 10 cm x 5 cm. Sekrup ini menerima aliran listrik 2 kilovolt dan mengikat karbon.

”Karbon yang melekat di sekrup itu bisa dibersihkan sehingga sekrup bisa digunakan terus,” kata Hermawan.

Timer mampu mengatur percikan listrik bertegangan tinggi pada sekrup-sekrup yang dipasang ketika asap rokok dialirkan. Unsur oksigen dan ozon yang terpisah kemudian terus saja melaju keluar kotak.

”Inilah keuntungan menggunakan T-Box, mendapatkan oksigen yang dapat dikembalikan ke ruangan,” katanya.

Aplikasi lain

T-Box pada dasarnya sebuah rangkaian yang menghasilkan listrik bertegangan tinggi. Listrik itu dialirkan pada bagian runcing sekrup dan memunculkan percikan listrik yang kemudian mengikat karbon padat.

”Untuk aplikasi lain belum terpikirkan. Ini baru untuk ruang merokok saja,” kata Hermawan.

Sistem penguraian karbon dan oksigen dari senyawa karbon dioksida atau karbon monoksida, seperti digunakan untuk ruang merokok ini, sebetulnya berpotensi untuk pemanfaatan yang lain. Jika mampu dirancang lebih kecil dan aman untuk dijinjing, bisa saja digunakan sebagai pelengkap masker para evakuator kebakaran.

Ketika menembus asap pekat, dengan teknik seperti T-Box, masker yang digunakan evakuator sekaligus dapat menyuplai oksigen. Bila itu bisa diwujudkan, pekerjaan mulia para evakuator akan lebih maksimal.

Mengenai hal itu, Hermawan belum bisa memastikannya. ”Kalau semacam itu yang diinginkan, butuh penelitian lebih lanjut,” katanya. (Kompas, 6 Juli 2012/ humasristek)