Pengajian Rutin Juni UMRI : Melalui Shalat Berjamaah Kita Perkuat Leadership

Pengajian (wirid) rutin untuk bulan Juni 2012 dilaksanakan oleh Universitas Muhammadiyah Riau (UMRI) dengan tema Shalat Berjamaah. Pengajian rutin kali ini terlaksana pada hari Jumat (29/6) bertempat di Auditorium Kampus I UMRI, Jl. KH Ahmad Dahlan 88, Pekanbaru, Riau. Hadir dalam pengajian kali ini para dosen dan karyawan di lingkungan UMRI serta pejabat struktural, baik ketua program studi, dekan, kepala biro/lembaga serta pimpinan rektorat.

Tampil sebagai nara sumber atau pemateri adalah Elviandri,S.HI,M.Hum dan Drs. H.M. Rasyad Zein,MM dari LSIK (Lembaga Studi Islam dan Kemuhammadiyahan) UMRI. Seperti kajian rutin-kajian rutin sebelumnya, acara pengajian kali ini diawali dengan penayangan video ringkas seputar tata cara dan pedoman shalat berjamaah yang dipublikasikan oleh Majelis Tarjih Pimpinan Pusat Muhammadiyah.

Dalam pengantarnya, Elviandri menegaskan bahwa shalat berjamaah sangat penting dan harus ditegakkan, serta harus mengikuti tuntunan Nabi Muhammad SAW. Melalui tayangan video yang dipublikasikan PP Muhammadiyah tersebut, mari kita jadikan panduan untuk shalat berjamaah secara benar sehingga ibadah yang kita lakukan dapat diterima dan berkualitas di sisi Allah SWT.

Selanjutnya dari nara sumber kedua, Rasyad Zein menyampaikan bahwa ada tiga hal pokok yang perlu diperhatikan dalam shalat berjamaah. Pertama, dalam shalat berjamaah itu mengikhlaskan niat untuk menjadi imam atau makmum. Masing-masing memiliki syarat dan mekanisme berbeda. Kedua, posisi dan gerakan bahwa imam posisinya di depan (imam laki-laki) sedangkan makmum mengikutinya di belakang. Gerakan imam didahulukan, artinya makmum tidak boleh menyamai atau mendahului gerakan imam. Ketiga, jika makmum terlambat (masbuk), maka langsung mengikuti gerakan imam pada saat dia bergabung dalam shalat jamaah tersebut. Kekurangan rakaat diganti setelah imam mengucapkan salam (akhir shalat berjamaah).

Acara dilanjutkan dengan dialog dan diskusi. Pada sesi ini dibahas beberapa hal, misalnya : bagaimana seharusnya jika makmum dewasa membawa serta anak kecil dalam shaf-nya, bagaimana sikap makmum yang tidak menginginkan qunut pada shalat subuh berjamaah sementara imam melaksanakannya, apakah makmum wajib membaca surat al fatihah dan kapan harus membacanya,  serta seputar kasus bagaimana jika seorang melangkahi orang yang sedang shalat.

Pada bagian akhir sebagai penutup, kedua nara sumber dari LSIK menegaskan bahwa dalam shalat berjamaah di masyarakat akan terjadi perbedaan-perbedaan kecil. Untuk itu sebagai warga Muhammadiyah yang telah mengetahui ilmu dan tuntunannya, tidak seharusnya saling menyalahkan. Selama sesuai dengan Al Quran dan Hadits (terutama hadits shahih) harus saling menghormati. Maka secara berkala harus senantiasa meningkatkan ilmu dan amal shaleh agar semua ibadah yang dikerjakan berdasarkan ilmu dan tuntunan bukan berdasar perkataan orang per orang. (Hsn).