(0761) 35008 umri@umri.ac.id

Obat dari Sampah Si ‘Rambut Merah’

Semua yang ada di bumi pasti ada manfaatnya. Tidak mungkin sesuatu diciptakan tanpa ada manfaat dan tujuan yang jelas, iya kan? Ternyata dalam alam yang sudah terlalu tua dan sepuh ini banyak sekali hal-hal unik yang masih tersembunyi dan belum terungkap secara menyeluruh di masyarakat. Salah satunya mungkin adalah hal yang sering kita sebut-sebut sebagai sampah yaitu biji dan kulit buah rambutan.

  
Siapa sih yang tidak kenal dengan buah rambutan? Pasti semua orang sudah tahu buah ini. Buah yang ditunggu-tunggu di musim hujan. Biasanya kalau sudah musim panen, di pinggiran jalan banyak menggantung ikatan-ikatan si “rambut merah” dan dijual dengan harga yang relatif murah.
  
Rambutan banyak ditanam sebagai pohon buah. Tinggi pohonnya 15-25 m dan bercabang banyak. Daun majemuk, berbentuk bulat lonjong, menyirip, letak berseling, jumlah anak daun 2-4 pasang, ujung dan pangkal runcing, tepi rata, pertulangan menyirip, tangkai silindris, dan berwarna hijau. Bunga tersusun pada tandan di ujung ranting, harum, berukuran kecil-kecil, dan berwarna hijau muda.

Bunga jantan dan bunga betina tumbuh terpisah dalam satu pohon. Buahnya bulat lonjong dengan duri tempel yang bengkok, lemas, sampai kaku. Kulit buahnya berwarna hijau yang akan berubah menjadi kuning kemudian merah ketika sudah masak. Dinding buah tebal, berwarna putih transparan, dan rasanya masam sampai manis. Biji berbentuk elips, dimana kulitnya tipis berkayu.
  
Buah rambutan banyak memiliki khasiat. Buah ini mengandung karbohidrat, protein, lemak, fosfor, besi, kalsium dan vitamin C. Di dalam buah rambutan tersimpan khasiat obat yang tak ternilai harganya, menurut kajian pakar tanaman obat, buah rambutan memuat besi, kalium, dan vitamin C. Dalam setiap 100 gram (sekitar 3 buah rambutan) terkandung 69 kalori, 18,1 gram karbohidrat, serta 58 mg vitamin. Kadar serat rambutan juga cukup tinggi, sekitar 2 gram per 100 gram berat buah. Karakter buah seperti ini cocok dikonsumsi orang-orang yang tengah berdiet menurunkan atau menjaga berat badan.

Buah ini tidak selamanya mudah dikonsumsi oleh masyarakat. Tetapi juga dapat menjadi alarm bagi orang-orang tertentu agar berhati-hati dalam mengonsumsinya. Khususnya bagi orang penderita diabetes mellitus. Jangan perlu khawatir, karena di dalam tanaman itu sendiri terdapat penawarnya. Kira-kira bagian apa yang jadi penawarnya?
  
Sudah sering sekali terlihat jika ada seseorang makan buah rambutan, maka bijinya otomatis langsung dibuang sembarangan, di tanah ataupun di tempat sampah. Padahal biji yang sering dibuang tersebut memberikan manfaat yang sangat menguntungkan bagi masyarakat. Manfaatnya adalah sebagai penawar  atau sebagai obat bagi penderita diabetes mellitus.  Ada rahasia apa di balik biji rambutan ini?
  
Ternyata biji buah rambutan juga dapat dimanfaatkan. Biji rambutan tidak beracun dan mengandung karbohidrat, lemak, protein, yang dapat memenuhi kebutuhan tubuh dari gizi. Biji rambutan juga mengandung lemak polifenol cukup tinggi. Kandungan kimia dalam biji rambutan adalah 30-43% lemak pejal, protein, serabut, kanji dan acid stearik. Minyak ini mengandung 34,7% acid aracidik dan 42,5% acid oleik. Komposisi zat-zat kimia dalam biji rambutan tersebut menghasilkan khasiat hipoglikemik (menurunkan kadar gula dalam darah) sehingga biji rambutan banyak digunakan untuk pengobatan alternatif guna menormalkan kadar gula darah penderita kencing manis (diabetes mellitus yang cenderung tinggi).
  
Sebenarnya, apa itu diabetes mellitus? Diabetes mellitus atau penyakit gula adalah penyakit yang ditandai dengan kadar glukosa darah melebihi nilai normal (hiperglikemia) akibat tubuh kekurang insulin baik absolut maupun relatif. Kekurangan insulin absolut yaitu kadar insulin di dalam darah penderita memang dibawah normal, sedangkan kekurangan insulin relatif yaitu kadar insulin masih dalam batas normal tetapi cara kerjanya tidak efektif, sehingga menunjukkan adanya gejala kekurangan insulin.

Lalu bagaimana cara mengolah biji tersebut agar dapat berkhasiat sebagai obat? Caranya adalah ambilah lima buah rambutan yang sudah masak, pisahkan bijinya. Potong biji rambutan menjadi bagian-bagian kecil, lalu sangrai sampai berwarna kuning kehitaman. Giling halus sampai menjadi bubuk. Masukkan seluruh bubuk ke dalam cangkir, seduh dengan air panas. Setelah dingin, minum bagian air yang bening sekaligus buang ampas atau endapannya. Lakukan sebelum makan sebanyak 1-3 kali sehari, tergantung pada seberapa tinggi kadar gula saat melakukan terapi ini. Konsumsi setiap hari jika perlu.

Selain sebagai obat, biji juga memiliki manfaat. Karena biji mengandung lemak pejal, maka biji dapat dimanfaatkan sebagai bahan goreng seperti mentega. Biji yang telah dipanggang dapat dimakan. Namun rasanya pahit dan tidak boleh dikonsumsi dalam jumlah banyak (berlebihan) karena bersifat narkotik. Minyak dari biji rambutan pun dapat digunakan sebagai sabun dan lilin.

Selain biji, dari rambutan pun kita selalu membuang kulitnya. Padahal dalam kulit rambutan terdapat kandungan kimia yang bermanfaat bagi kehidupan manusia, khususnya di bidang kesehatan. Kulit buah rambutan mengandung tannin dan saponin. Karena kulit si “rambut merah” mengandung tannin, maka kulit ini dapat digunakan sebagai penyamak kain. Kulit ini dapat digunakan sebagai obat disentri dan demam.

Untuk mengobati disentri, cara pemakaiannya adalah kulit buah rambutan (10 buah) dicuci terlebih dahulu, lalu dipotong-potong seperlunya. Kemudian ditambahkan 3 gelas minum air bersih, selanjutnya rebus sampai airnya tersisa setengah. Setelah dingin, disaring dan diminum 2 kali sehari, masing-masing tiga perempat gelas.

Untuk mengobati demam, cara pemakaiannya adalah kulit buah rambutan yang telah dikeringkan (15 gr) dicuci. Kemudian ditambah 3 gelas air bersih, lalu direbus sampai mendidih selama 15 menit. Setelah dingin, disaring dan diminum 3 kali sehari, masing-masing sepertiga bagian.

Itulah manfaat dari salah satu bagian si “rambut merah” yang dulu kita anggap sebagai sampah yang tidak ada gunanya. Tak disangka ternyata sampah tersebut memiliki khasiat obat dan tanaman ini dapat menjadi salah satu tanaman obat keluarga yang berada di pekarangan rumah masyarakat. (republika.co.id/ humasristek)