(0761) 35008 umri@umri.ac.id

Bus Listrik LIPI Hemat Biaya Operasional hingga 50 Persen

JAKARTA, KOMPAS.com Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) serta Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek) memperkenalkan bus listrik bernama Hevina. Abdul Hapid dari Pusat Penelitian Listrik dan Mekatronika LIPI mengatakan, bus listrik ini mampu menyempurnakan kelemahan yang terdapat pada mobil atau bus konvensional.

"Semua kelemahan mobil nasional ada di mobil listrik, kecuali harga yang memang masih tinggi," ungkap Hapid saat ditemui di Kantor Kemenristek, Selasa (26/6/2012).

Bus listrik yang diproduksi merupakan mikrobus berkapasitas 17 orang. Bus dilengkapi smart grid sehingga sumber listrik bisa didapatkan dari mana pun, termasuk tenaga surya. Di dalam bus ini, listrik disimpan dalam baterai. Jenis baterai yang digunakan adalah lithium ferophosphate 320 VOC /160 Ah. Jumlah baterai yang digunakan 100 buah. Mobil dirancang untuk bisa berjalan hingga kecepatan 100 km/jam dan bisa menempuh jarak 150 km tiap diisi penuh.

Saat kapasitas baterai tinggal 20 persen, akan ada peringatan sehingga baterai tidak benar-benar habis. Waktu yang dibutuhkan untuk charge atau pengisian adalah 4 jam. Dibanding bus atau mobil konvensional, bus listrik memiliki kelebihan sebab mampu menghemat biaya operasional hingga 50 persen.

"Perawatannya juga 70 persen lebih hemat dari yang konvensional. Bus ini tidak memakai oli, dan banyak komponen pada mobil konvensional yang dihilangkan," papar Abdul.

Saat uji coba hari ini, terbukti bahwa bus listrik tersebut juga tidak berisik. Saat ini, bus masih dalam bentuk prototipe riset. Belum ada investor yang berminat mengembangkannya menjadi produk massal. Investasi dalam pembuatan prototipe riset ini Rp 1,5 miliar. Harganya diharapkan bisa turun saat unit sudah diproduksi massal.

Abdul mengatakan, bus listrik ini bisa dikembangkan sebagai angkutan kota, angkutan karyawan, dan lainnya. Ke depan, LIPI masih akan mengembangkan bus yang lebih besar, juga city car. (kompas.com)