Melaut dengan Sel Surya

Rencana penghapusan subsidi bahan bakar minyak bila jadi diberlakukan tentu akan ”memukul” masyarakat kecil. Tak terkecuali nelayan yang menggunakan bahan bakar minyak untuk motor tempel perahunya. Untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil, diperkenalkan sel surya sebagai energi alternatif bagi kapal kecil.

Sistem sel surya mulai gencar dikembangkan pemanfaatannya di Indonesia. Sistem energi terbarukan ini bukan hanya untuk pemanas air dan menyalakan lampu penerangan di rumah-rumah, melainkan juga diterapkan untuk membantu nelayan menjalankan aktivitasnya.

Tahun lalu sistem sel surya sebagai sumber energi motor kecil untuk aerasi dan sirkulasi air tambak mulai diterapkan di berbagai daerah. Unit pembangkit ini antara lain terpasang di Bantul dan Sleman, DI Yogyakarta. Pemasangannya dilakukan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) serta Kementerian Riset dan Teknologi melibatkan Universitas Gadjah Mada.

Di Bantul, Yogyakarta, dan Pacitan, Jawa Timur, energi matahari digunakan untuk melistriki kotak pendingin serta kotak pembuat es balok dan es kristal untuk pengawetan ikan. Di tempat pelelangan ikan Pacitan, sistem sel surya digunakan sebagai sumber energi unit pendingin ikan tuna berukuran 37,5 meter kubik hingga minus 15 derajat celsius, kata Berni Subki, Kepala Bidang Pelayanan Teknis Pusat Pengkajian dan Perekayasaan Teknologi Kelautan dan Perikanan (P3TKP) KKP.

Kapal sel surya

Penerapan sel surya juga membantu nelayan mengurangi penggunaan bahan bakar minyak, yaitu minyak solar untuk menggerakkan motor tempel serta menghemat minyak tanah untuk penerangan. Rancang bangun kapal bertenaga surya ini dirintis tim peneliti dari P3TKP KKP yang dipimpin Donald Manurung.

Sebagai pengganti motor diesel, mereka memasang motor bertenaga listrik dan sel surya yang mengubah panas matahari menjadi energi listrik yang menggerakkan motor. Untuk menggerakkan motor listrik berdaya 2 kilowatt, dipasang 8 modul surya 80 watt peak, di bagian atap kapal seluas 3 meter persegi. Namun, listrik yang dihasilkan panel surya disimpan dulu dalam 6 baterai DC sebelum digunakan untuk menggerakkan motor.

Daya yang dihasilkan panel surya itu relatif rendah, menyesuaikan dengan rancangan kapal yang berukuran kecil, yaitu 4,3 meter x 2,5 meter dan relatif ringan karena menggunakan bahan plastik berserat kaca (fiberglass reinforced plastic/FRP). Jenis kapal yang dipilih adalah katamaran berlambung ganda.

Dengan desain dan ukuran kapal itu, motor tempel bertenaga sel surya dapat mencapai kecepatan 5-6 knot (9-11 km per jam) pada uji coba bulan Februari. Kapasitas maksimum motor dapat mendorong kapal berbobot 3 ton sejauh 13 mil laut (setara 24 kilometer).

Dengan daya ini, kapal dapat menjangkau salah satu pulau di Kepulauan Seribu dalam waktu 2 jam. Uji coba pada Februari itu dilakukan pada jalur Tanjung Burung di Tangerang ke Taman Impian Jaya Ancol.

”Saat ini kapal katamaran digunakan di Ecopark Ancol sebagai sarana pendidikan dan penelitian serta pemantau perairan,” kata Donald.

Menyusul keberhasilan uji coba ini, tim perekayasa dari Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kelautan dan Perikanan akan membuat kapal jenis sama dengan panjang 12 meter yang mampu melaju dengan kecepatan lebih dari 22 km per jam.

Motor listrik

Rancang bangun dan rekayasa motor tempel bertenaga baterai sesungguhnya telah dirintis beberapa tahun lalu. Salah satu pengembang adalah Suji Kuswahjudi, inovator dari Pasuruan, Jawa Timur. Sistem ini dicoba nelayan di Danau Ranu, Pasuruan.

Kapal sejenis juga direkayasa oleh Sudiyono dan Bambang Antoko dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya, tahun 2009. Mereka merancang bangun kapal yang panjangnya hampir 4 meter. Kapal ini digunakan untuk wisata sungai di Kali Mas, Surabaya.

Di dunia, kapal bertenaga sel surya banyak dikembangkan di Amerika Serikat dan Eropa. Bahan sel surya yang digunakan adalah film tipis dan kristalin. Umumnya bahan yang digunakan monokristalin yang dapat tetap mengaliri listrik baterai meski cuaca mendung. Namun, penggunaannya belum berkembang karena efisiensinya masih rendah, di bawah 20 persen.

Penghematan biaya

Dilihat dari anggaran pembuatan, kapal ini memerlukan investasi Rp 105 juta, lebih besar daripada motor berbahan bakar minyak. Namun, dalam jangka panjang, biaya operasional akan lebih rendah karena meniadakan pembelian BBM, baterainya pun tidak memerlukan penggantian hingga 10 tahun.

Menurut Donald, penggunaan sel surya dapat meniadakan pembelian minyak solar sebesar Rp 1.350.000 untuk berlayar selama 20 hari. Namun, pemasangan sel surya menelan biaya Rp 5 juta per panel. Biaya itu dapat terganti selama 33 bulan tak membeli minyak solar. Sel surya ini dapat digunakan hingga 20 tahun. Jadi dapat dicapai penghematan hampir tujuh kali lipat, Donald menguraikan.(kompas.com/humasristek)