Ilmuwan Kembangkan Teknologi Untuk Mengubah Urin Sebagai Sumber Energi dan Air Bersih

Air bersih memang menjadi kebutuhan mendasar manusia. Tetapi kini kebutuhan mendasar tersebut mulai sulit didapatkan, selain deforestasi dan bercampurnya limbah, pemanasan global juga semakin memperkecil kemungkinan mendapatkannya. Bagi mereka yang hidup di negara miskin dan berkembang, sulitnya mendapatkan air bersih semakin mengurangi kesempatan hidup yang lebih baik.

Berangkat dari kenyataan itu, seorang doktor dari Manchester University mulai mengembangkan teknologi untuk mengubah urin kembali menjadi air bersih dan sekaligus menghasilkan energi.

Saat ini menghasilkan energi dari urin sudah dilakukan oleh banyak ilmuwan dari berbagai belahan dunia. Teknologinya pun sudah bisa diandalkan. Tetapi menghasilkan bahan bakar hidrogen serta menghasilkan air bersih dari urin merupakan hal baru.

Dr. Sarah Haigh tidak bekerja sendirian, dia menggandeng sekelompok peneliti di Imperial College London dan Durham University. Untuk mencapai sasarannya, Dr. Haigh memanfaatkan teknologi nano. Berdasar riset yang telah dilakukannya, logam seperti nikel atau besi dalam skala nano ditambahkan dengan sejenis bakteri mampu memisahkan hidrogen dari urin menjadi bentuk hidrozene -bahan bakar dasar untuk roket-  dengan baik, sedangkan kandungan airnya akan menjadi air bersih yang bisa dikonsumsi.

Riset yang dilakukan Dr. Sarah Haigh bersama timnya menarik perhatian banyak pihak. Proposal yang disiapkannya disetujui oleh Bill and Melinda Foundation -yayasan milik Bill Gates, pemilik Microsoft. Riset tersebut mendapat bantuan dana sebesar 100.000 US dolar.

Jika Dr. Haigh mampu mendemonstrasikan reaksi kimia yang terjadi dalam pemisahan hidrogen, maka 1 juta US dolar akan diberikan yayasan tersebut untuk membawa hasil risetnya ke produksi nyata. Harapannya, jutaan orang di berbagai negara miskin dan berkembang akan menikmati kecukupan air sekaligus memanfaatkan energinya. manchester evening news (planethijau.com/humasristek)