Mobil Hibrida Hemat Bahan Bakar

Kenaikan harga bahan bakar minyak memberikan pilihan: menerima begitu saja, menghemat, atau beralih ke sumber energi lain yang lebih murah. Universitas Indonesia memilih meriset mobil hibrida yang lebih fokus untuk menghemat bahan bakar minyak.

”Mobil hibrida menggunakan sumber energi bahan bakar minyak dan listrik. Saat ini, secara ekonomi belum memungkinkan untuk sepenuhnya memakai energi listrik yang ramah lingkungan,”

kata Kepala Laboratorium Proses Produksi pada Departemen Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Indonesia (UI) Danardono Agus Sumarsono, Kamis (29/3), di Kampus UI Depok, Jawa Barat.

Danardono memimpin riset mobil hibrida Proto-VI sejak tahun 2010. Anggaran riset sebesar Rp 40 juta diperoleh dari Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat UI.

Sebelumnya, tahun 2001 dihasilkan mobil hibrida UI pertama dengan prototipe yang diberi nama Proto-I. Pada tahun 2003 dikembangkan lagi Proto- II. Berikutnya Proto-III (2005), Proto-IV (2007), dan Proto-V (2009).

 ”Proto-VI menggunakan mesin motor skutik (skuter otomatik) dengan silinder mesin berkapasitas 110 cc (sentimeter kubik) berbahan bakar bensin,” kata Danardono.

Hasil uji coba Proto-VI menunjukkan, ketika dijalankan hanya dengan mesin bakar, Proto-VI mampu menjangkau 32,2 kilometer per liter. Ketika dijalankan dengan energi listrik, mobil itu mampu menjangkau 42,2 kilometer per liter.

Tanpa ”charging”

Rancangan mobil hibrida tersebut tanpa charging (pengisian listrik) dengan sumber yang terpisah dengan mesin. Sistem pengisian listrik memiliki tiga sumber pembangkit dengan dua jalur tegangan.

Ketiga sumber pembangkit listrik itu meliputi alternator, yaitu peralatan elektromekanis yang mengonversikan energi mekanik menjadi energi listrik arus bolak-balik berkapasitas pengisian 80 watt. Kedua, alternator tambahan 300 watt yang digerakkan motor bakar. Hal ini untuk memperkuat pengisian empat baterai atau aki yang disusun seri berkapasitas 48 volt (V) per 32 ampere-jam (Ah).

Ketiga, pembangkit listrik regeneratif yang berasal dari kedua motor listrik pada saat perlambatan laju kendaraan. Pembangkit ini dengan kapasitas maksimum 199 watt pada putaran roda 737 kali per menit (rpm).

”Mobil hibrida ini memakai energi listrik dengan kecepatan maksimum hingga 30 kilometer. Jika lebih cepat lagi, mikrokontroler akan menyalakan mesin bakar dengan bahan bakar bensin tersebut,” kata Danardono.

Para mahasiswa Fakultas Teknik UI yang dilibatkan saat ini merancang kapasitas mobil hibrida untuk tiga orang. Penggunaannya akan lebih hemat di perkotaan yang macet dengan kecepatan tidak lebih dari 30 kilometer per jam.

”Ketika listrik habis, secara otomatis akan menyalakan mesin bakar,” kata Danardono.

Kestabilan

Salah satu tujuan riset Proto- VI, menurut Danardono, merancang dan menguji prototipe kontrol traksi mobil hibrida. Sistem kontrol traksi itu untuk menjaga kestabilan mesin dengan jenis seri-paralel kombinasi antara mesin pembakaran dengan 6,54 kilowatt dan motor listrik 1 kilowatt.

”Sistem kontrol traksi akan dipatenkan,” kata Danardono.

Mesin mobil hibrida Proto-VI dengan mesin skutik itu menggunakan transmisi langsung (continuously variable transmission). Penggeraknya bertenaga listrik terintegrasi sebagai motor dan generator yang melekat pada masing-masing roda belakang.

”Penggerak tersebut mampu memperhalus perpindahan daya ketika mobil beroperasi,” kata Danardono.

Motor listrik ganda brushless itu memiliki kapasitas 48 volt dengan arus searah (DC). Masing-masing motor listrik memiliki daya 500 watt.

Penghematan bahan bakar minyak dengan mesin hibrida listrik, menurut Danardono, sudah diserukan dalam sebuah kongres di Amerika Serikat pada tahun 1966. Berbagai perusahaan otomotif terbesar di dunia, seperti Toyota, Chevrolet, dan Nissan, hingga kini mengembangkan produk mobil hibrida komersial.

Hasil riset Proto-VI, kata Danardono, menunjukkan prinsip kerja mobil hibrida bahan bakar minyak dan listrik teruji. Untuk memproduksi secara massal, Danardono mengatakan, hal itu masih menjadi persoalan tersendiri.

Harus diakui, selama ini hasil-hasil riset berbagai lembaga penelitian ataupun perguruan tinggi menakjubkan. Tetapi, laporan dari hasil-hasil riset lebih banyak yang masuk laci. Penyebab yang menonjol adalah tidak ada investor ataupun kurangnya dukungan pemerintah untuk mengaplikasikan. (Kompas, 30 Maret 2012/ humasristek)