(0761) 35008 umri@umri.ac.id

Solusi Air Bersih Lewat Tenaga Surya

Gbr: Panel-panel Carocell digunakan untuk meningkatkan suhu air dalam scholar collector sehingga   penguapan dalam panel meningkat lebih sempurna.

JAKARTA, KOMPAS.com – Upaya pengelolaan air bersih semakin membutuhkan perhatian lebih dari Pemerintah melalui sinergi dengan swasta dan masyarakat. Untuk itu, tahun ini Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) bekerja sama dengan Kementerian Negara Koordinator Kesejahteraan Masyarakat dan F CUBED dari Australia memperkenalkan teknologi desalinasi dengan tenaga surya.

Penerapan teknologi desalinasi ini guna memperoleh air bersih bagi pertanian, perkebunan, industri maupun perumahan dan sebagainya. Teknologi ini merupakan teknologi untuk memproses penghilangan kadar garam pada kandungan air menggunakan bantuan tenaga surya, yang diharapkan bisa menjadi salah satu solusi mendapatkan pasokan air bersih di berbagai daerah di Indonesia yang sudah mencapai tahap kritis, terutama di perkotaan.

Melalui terobosan teknologi "Carocell solar desalination" atau menghilangkan kadar garam melalui teknologi tenaga surya, Carocell juga mencakup teknologi ''Zero Liquid Discharge'' (ZLD), yang mampu mengubah limbah. Hasilnya merupakan kombinasi antara air minum dengan garam sebagai hasil fraksinasi garam. Panel-panel Carocell tersebut digunakan untuk meningkatkan suhu air dalam scholar collector sehingga penguapan/kondensasi dalam panel meningkat lebih sempurna. Panel ini didesain secara canggih, geometris, mudah perawatannya dengan kinerja optimal untuk memproses air dari sumber apapun menjadi air bersih tanpa meninggalkan emisi gas rumah kaca.

"Garam hasil fraksinasi tadi akan memberi nilai tambah karena bermanfaat dijadikan garam meja atau garam untuk kolam renang. Magnesium klorida yang dihasilkan pun dapat digunakan oleh industri tambang untuk menekan debu," kata Peter Johnstone, Chief Executive Officer dan Pendiri F CUBED, dalam siaran persnya menyambut Hari Air Sedunia, di Jakarta, Sabtu (24/3/2012).

Hasil sampingan fraksinasi yang ternyata sangat bermanfaat ini, lanjut dia, juga dapat dijual dan menghasilkan uang. Lebih dari itu, adalah minimnya dampak lingkungan hidup yang dapat terjadi.

"Karena lingkungan hidup, tanaman, dan manusia tetap aman terjaga," ujarnya.

Peter, yang juga peneliti sekaligus pemilik hak patennya, menambahkan bahwa teknologi desalinasi dengan tenaga surya temuannya ini telah diterapkan di 26 negara, termasuk India, Bangladesh, Malaysia, Dubai. Ia mengatakan, pihaknya saat ini tengah menjajaki kemungkinan membangun pabrik pengolahan ini di Indonesia.

Selama ini, Pemerintah melalui lembaga BPPT maupun LIPI merupakan lembaga pemerintah yang bertanggungjawab terhadap penelitian, pengkajian dan penerapan teknologi untuk mendapatkan air bersih bagi masyarakat. Karena itulah, lanjut Peter, dengan investasi sekitar 10 juta Dolar AS, pihaknya mengajak kerja sama BPPT dan LIPI untuk mencapai tujuan tersebut.

Sebelumnya, FCUBED baru-baru ini menandatangi kontrak senilai 11 juta USD dengan Pemerintah Kota Ceduna di Australia Selatan untuk memasok air minum melalui terobosan teknologi Carocell solar desalination.

Sementara itu, menurut Direktur Perwakilan Kantor Unesco di Jakarta Hubert Gijzen mengatakan, pengelolaan air menjadi faktor tunggal paling mendesak saat ini karena bisa menghambat pembangunan bangsa. Perlu dilakukan berbagai upaya untuk lebih mempromosikan pembangunan air secara berkelanjutan.

"Buruknya pengelolaan air bisa menghambat pembangunan, membatasi produksi pangan serta berbagai penderitaan dan kerusakan ekonomi dari bencana yang berhubungan dengan air," kata Hubert di Jakarta, Sabtu (24/3/2012).

Pemurni air

Sebelumnya, Yoyon Ahmudiarto dari Pusat Penelitian Tenaga Listrik dan Mekatronik (P2-Telimek) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) juga telah menciptakan "Banyu Mili". Upaya yang dilakukan Yoyon diharapkan bisa membantu masyarakat yang semakin sulit mendapatkan air layak konsumsi dengan murah karena sumber air tanah di beberapa daerah juga kian minim. Sementara upaya mendapatkan sumber air alternatif menghadapi kendala peralatan dan biaya.

"Banyu Mili adalah alat pemurni air dengan tenaga surya yang bisa memenuhi kebutuhan air secara murah," kata Yoyon saat ditemui di Jakarta, Kamis (15/3/2012) lalu.

Banyu Mili atau singkatan dari "Banyu Milik LIPI" ini bisa mengolah air dari sumber manapun secara singkat dan dapat langsung diminum.  Komponen alat pemurni air tersebut terdiri dari panel surya, kabel, filter karbon aktif, filter mikron, lampu ultraviolet, accu, selang dan kran air. Air yang diproses akan masuk lewat selang ke filter karbon aktif. Di sini, air akan dibebaskan dari senyawa kimia berbahaya. Selanjutnya, air masuk ke filter mikron untuk memisahkannya dari partikel debu.

Proses sterilisasi air akan berlangsung di dalam saluran dengan sinar UV. Setelah proses ini, air akan dikeluarkan lewat kran dan sudah siap diminum. (sumber: kompas.com/25Maret2012/humasristek)