Transmisi Daya Nirkabel Ubah Jalan Raya Sebagai Charger Raksasa

charger raksasaMobil listrik akan menjadi tren di masa depan. Sayangnya, hingga kini mobil tanpa polusi dan emisi tersebut masih terhambat dengan masalah media penyimpanan energi biasanya berupa baterai yang membatasi jarak tempuh dan membutuhkan waktu yang relatif lama untuk mengisinya.

Mencoba mengatasi kendala tersebut, alih-alih melakukan riset pada media penyimpan energi yang sudah banyak dilakukan oleh ilmuwan-ilmuwan lain di belahan bumi ini, para peneliti di Stanford University, justru melakukan riset tentang potensi pemanfaatan jalan raya sebagai charger raksasa.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Shanhui Fan, Richard Sassoon dan Xiaofang Yu dan juga diterbitkan di jurnal Applied Physics Letter tersebut membuka konsep baru tentang bagaimana mengubah jalan raya menjadi sebuah perangkat yang mampu mentransfer daya listrik sebesar 10 kiloWatt kepada setiap mobil listrik yang melaju di atasnya. Dengan cara ini jarak tempuh mobil listrik tidak tergantung lagi pada kapasitas penyimpanan baterai, dan di akhir perjalanannya, masih ada sisa energi listrik di dalam baterainya.

Teknologi ini merupakan hasil pengembangan temuan yang dilakukan oleh para peneliti MIT di tahun 2007. Saat itu sebuah lampu pijar berhasil dinyalakan secara nirkabel di antara dua buah kumparan besar. Obyek apapun yang berada di antara dua kumparan tersebut tidak akan terpengaruh atau mempengaruhi kumparan-kumparan tersebut.

Para peneliti di Stanford University tersebut menjelaskan bahwa metode yang sama juga bisa diterapkan di jalan raya. Beberapa kumparan ditanam di jalan raya dengan dialiri listrik berfungsi sebagai pemancar, sedangkan kumparan penerima terpasang di bagian bawah mobil. Resonansi yang sama, akan menghasilkan medan magnet yang akan menjadi jalur transmisi daya dari jalan raya ke mobil yang berada di atasnya.

Untuk mendapatkan efisiensi transfer daya listrik sebesar 97%, mereka menggunakan model simulasi matematik. Mereka mendapati bahwa sebuah kumparan yang dipasang tegak lurus 90 derajat di atas sebuah pelat logam, mampu memindahkan daya listrik sebesar 10 kiloWatt dengan efisiensi sebesar itu.

Penelitian mereka belum selesai. Mereka berusaha meyakinkan diri mereka bahwa 3% daya listrik yang hilang berubah menjadi panas dan bukannya menjadi radiasi yang membahayakan pengemudi. Saat ini mereka telah mematenkan temuannya dan selanjutnya mereka akan melakukan eksperimen skala laboratorium dan bahkan akan mencobanya dalam kondisi nyata.

Sebenarnya beberapa perusahaan lain, misalnya Nissan dan Evatran, juga menggunakan teknologi yang sama. Tetapi yang dikembangkan para peneliti di Stanford University adalah charger untuk mobil listrik bergerak, sementara kedua perusahaan tadi mengembangkannya sebagai charger di tempat dimana mobil listrik diparkir. (planethijau.com/ humasristek)

Sumber : www.ristek.go.id